Showing posts with label Dari Bali. Show all posts
Showing posts with label Dari Bali. Show all posts

Friday, 20 May 2016

Kolonel TNI Anumerta I Gusti Ngurah Rai - Puputan Margarana

Kolonel TNI Anumerta I Gusti Ngurah Rai (lahir di Desa Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali, Hindia Belanda, 30 Januari 1917 – meninggal di Marga, Tabanan, Bali, Indonesia, 20 November 1946 pada umur 29 tahun) adalah seorang pahlawan Indonesia dari Kabupaten Badung, Bali.

Ngurah Rai memiliki pasukan yang bernama “Ciung Wenara” melakukan pertempuran terakhir yang dikenal dengan nama Puputan Margarana. (Puputan, dalam bahasa bali, berarti “habis-habisan”, sedangkan Margarana berarti “Pertempuran di Marga”; Marga adalah sebuah desa ibukota kecamatan di pelosok Kabupaten Tabanan, Bali)

Ayahnya bernama I Gusti Ngurah Palung yang berprofesi sebagai manca (jabatan setingkat camat). Setelah menamatkan pendidikannya di HIS Denpasar dan MULO di Malang, tahun 1936 beliau melanjutkan pendidikan di Sekolah Kader Militer di Gianyar Bali. Selanjutnya mengikuti pendidikan di Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO) di Magelang. Pada masa pendudukan Jepang, Ngurah Rai bekerja sebagai intel sekutu di daerah Bali dan Lombok.

Setelah Indonesia Merdeka pemerintah Indonesia I Gusti Ngurah Rai membentuk TKR Sunda Kecil dan beliau menjadi komandannya dengan pangkat Letnal Kolonel. Ngurah Rai kemudian pergi ke Yogyakarta untuk konsolidasi dan mendapatkan petunjuk dari pimpinan TKR. Sekembalinya dari Yogyakarta, Bali ternyata sudah dikuasai Belanda.

I Gusti Ngurah Rai kemudian membentuk kembali pasukannya yang telah tercerai beraidan memberi nama pasukannya Ciung Wanara. Setelah itu mereka melakukan penyergapan terhadap kedudukan Belanda di Desa Marga Tabanan Bali. Belanda kemudian melancarkan serangan besar-besaran lewat darat dan udara. Ngurah Rai kemudian meminta pasukannya untuk perang puputan (habis-habisan).

Bersama 1.372 anggotanya pejuang MBO (Markas Besar Oemoem) Dewan Perjoeangan Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) dibuatkan nisan di Kompleks Monumen de Kleine Sunda Eilanden, Candi Marga, Tabanan. Detil perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan resimen CW dapat disimak dari beberapa buku, seperti “Bergerilya Bersama Ngurah Rai” (Denpasar: BP, 1994) kesaksian salah seorang staf MBO DPRI SK, I Gusti Bagus Meraku Tirtayasa peraih “Anugrah Jurnalistik Harkitnas 1993”, buku “Orang-orang di Sekitar Pak Rai: Cerita Para Sahabat Pahlawan Nasional Brigjen TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai” (Denpasar: Upada Sastra, 1995), atau buku “Puputan Margarana Tanggal 20 November 1946” yang disusun oleh Wayan Djegug A Giri (Denpasar: YKP, 1990).

Ia gugur bersama seluruh anggota pasukannya di sebelah timur laut tabanan (Bali Selatan). Perang tersebut terkenal dengan sebutan Puputan Margarana. Untuk menghormati jasanya, Pemerintah RI memberikan gelar pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI no 63/TK/1975 tanggal 9 Agustus 1975.

Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra dan kenaikan pangkat menjadi Brigjen TNI (anumerta). Namanya kemudian diabadikan dalam nama bandar udara di Denpasar Bali, Bandara Ngurah Rai.

Sumber : http://www.pusakaindonesia.org

I Gusti Ngurah Made Agung - Raja Badung VII




I Gusti Ngurah Made Agung lahir pada 5 April 1876 di Puri Agung Denpasar Bali, dan dinobatkan sebagai Raja Badung VII pada tahun 1902. Ia gugur dalam pertempuran melawan pasukan penjajah Belanda pada 20 September 1906. Karena gugur di medan perang, ia diberi gelar kehormatan Ida Betara Tjokorda Mantuk Ring Rana (Raja yang gugur di medan perang). 

Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 116-TK/2015, Presiden memberikan gelar pahlawan nasional kepada I Gusti Ngurah Made Agung.

Riwayat Perjuangan :

a. Sepanjang hidupnya Raja Badung VII menentang penjajahan Belanda. Melalui karya-karya sastranya ia membangkitkan semangat perjuangan. Di antara karya sastranya adalah :
Geguritan Dharma Sasana, Gegurutan Niti Raja Sasana, Geguritan Nengah Jimbaran, Kidung Loda, Geguritan Purwasensara, Kakawin Atlas, Geguritan Hredaya Sastra

b. Setelah diangkat menjadi Raja Badung VII pada tahun 1902, ia langsungmenolak untuk melanjutkan isi Perjanjian Kuta antara raja-raja di Bali dengan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang ditandatangani pendahulunya pada 13Juli 1849. Penolakannya didasarkan pada pandangannya bahwa isi Perjanjian Kuta merugikan kemerdekaan kerajaan-kerajaan di Bali, termasuk Kerajaan Badung karena berdasarkan perjanjian tersebut, pemerintah kolonial mempunyai dasar hukum untuk ikut campur dalam masalah internal Kerajaan Badung dankerajaan-kerajaan lain di Bali. 

c. Raja Badung VII adalah seorang budayawan yang menjaga kebudayaan Bali. Oleh karena itu ia menentang larangan PemerintahHindia Belanda terhadap pelaksanaan upacara mesatye (pengorbanan bunuh diri permaisuri) dalam upacara pembakaran jenazah Raja Tabanan pada 25 Oktober 1903. Penentangan ini mengakibatkan hubungan antara Kerajaan Badung dan Belanda menjadi semakin memburuk. 

d. Belanda memanfaatkan terdamparnya Kapal Dagang Sri Kumala yang berbendera Belanda di Pantai Sanur pada 27 Mei 1904 untuk menghancurkan Kerajaan Badung dengan tuduhan melakukan perampokan
terhadap kapal dagang tersebut. Raja Badung VII menolak tuduhan ini. Ia juga menolak untuk membayar ganti rugi yang dituntut Belanda. Penolakan tersebut berakibat pada dilakukannya blokade ekonomi oleh Belanda terhadap Kerajaan Badung dari bulan Nopember 1904 hingga Oktober 1906. 

e. Pada bulan September 1906 Pemerintah Hindia Belanda membentuk pasukan besar di bawah pimpinan Jenderal Mayor M.B.Rost vanTonningen karena blokade ekonomi tidak berhasil menghancurkan Kerajaan Badung. Pembentukan pasukan ini tidak membuat Raja Badung VII menyerah. Sebaliknya, ia memilih untuk berperang melawan pasukan Belanda tersebut hingga gugur di medan pertempuran pada tanggal 20 September 1906. Pertempuran ini lebih dikenal dengan nama Puputan Badung. 

Sumber : http://k2ks.kemsos.go.id