Showing posts with label Dari Maluku. Show all posts
Showing posts with label Dari Maluku. Show all posts

Monday, 23 May 2016

Kapitan Pattimura - Pejuang Dari Saparua



Kapitan Pattimura yang bernama asli Thomas Matulessy, ini lahir di Negeri Haria, Saparua, Maluku tahun 1783. Perlawanannya terhadap penjajahan Belanda pada tahun 1817 sempat merebut benteng Belanda di Saparua selama tiga bulan setelah sebelumnya melumpuhkan semua tentara Belanda di benteng tersebut. Namun beliau akhirnya tertangkap. Pengadilan kolonial Belanda menjatuhkan hukuman gantung padanya. Eksekusi yang dilakukan pada tanggal 16 Desember 1817 akhirnya merenggut jiwanya. 

Perlawanan sejati ditunjukkan oleh pahlawan ini dengan keteguhannya yang tidak mau kompromi dengan Belanda. Beberapa kali bujukan pemerintah Belanda agar beliau bersedia bekerjasama sebagai syarat untuk melepaskannya dari hukuman gantung tidak pernah menggodanya. Beliau memilih gugur di tiang gantung sebagai Putra Kesuma Bangsa daripada hidup bebas sebagai penghianat yang sepanjang hayat akan disesali rahim ibu yang melahirkannya.

Dalam sejarah pendudukan bangsa-bangsa eropa di Nusantara, banyak wilayah Indonesia yang pernah dikuasai oleh dua negara kolonial secara bergantian. Terkadang perpindahtanganan penguasaan dari satu negara ke negara lainnya itu malah kadang secara resmi dilakukan, tanpa perebutan. Demikianlah wilayah Maluku, daerah ini pernah dikuasai oleh bangsa Belanda kemudian berganti dikuasai oleh bangsa Inggris dan kembali lagi oleh Belanda. 

Thomas Matulessy sendiri pernah mengalami pergantian penguasaan itu. Pada tahun 1798, wilayah Maluku yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda berganti dikuasai oleh pasukan Inggris. Ketika pemerintahan Inggris berlangsung, Thomas Matulessy sempat masuk dinas militer Inggris dan terakhir berpangkat Sersan. 

Namun setelah 18 tahun pemerintahan Inggris di Maluku, tepatnya pada tahun 1816, Belanda kembali lagi berkuasa. Begitu pemerintahan Belanda kembali berkuasa, rakyat Maluku langsung mengalami penderitaan. Berbagai bentuk tekanan sering terjadi, seperti bekerja rodi, pemaksaan penyerahan hasil pertanian, dan lain sebagainya. Tidak tahan menerima tekanan-tekanan tersebut, akhirnya rakyat pun sepakat untuk mengadakan perlawanan untuk membebaskan diri. Perlawanan yang awalnya terjadi di Saparua itu kemudian dengan cepat merembet ke daerah lainnya diseluruh Maluku. 

Di Saparua, Thomas Matulessy dipilih oleh rakyat untuk memimpin perlawanan. Untuk itu, ia pun dinobatkan bergelar Kapitan Pattimura. Pada tanggal 16 mei 1817, suatu pertempuran yang luar biasa terjadi. Rakyat Saparua di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura tersebut berhasil merebut benteng Duurstede. Tentara Belanda yang ada dalam benteng itu semuanya tewas, termasuk Residen Van den Berg. 

Pasukan Belanda yang dikirim kemudian untuk merebut kembali benteng itu juga dihancurkan pasukan Kapitan Pattimura. Alhasil, selama tiga bulan benteng tersebut berhasil dikuasai pasukan Kapitan Patimura. Namun, Belanda tidak mau menyerahkan begitu saja benteng itu. Belanda kemudian melakukan operasi besar-besaran dengan mengerahkan pasukan yang lebih banyak dilengkapi dengan persenjataan yang lebih modern. Pasukan Pattimura akhirnya kewalahan dan terpukul mundur. 

Di sebuah rumah di Siri Sori, Kapitan Pattimura berhasil ditangkap pasukan Belanda. Bersama beberapa anggota pasukannya, dia dibawa ke Ambon. Di sana beberapa kali dia dibujuk agar bersedia bekerjasama dengan pemerintah Belanda namun selalu ditolaknya. 

Akhirnya dia diadili di Pengadilan kolonial Belanda dan hukuman gantung pun dijatuhkan kepadanya. Walaupun begitu, Belanda masih berharap Pattimura masih mau berobah sikap dengan bersedia bekerjasama dengan Belanda. Satu hari sebelum eksekusi hukuman gantung dilaksanakan, Pattimura masih terus dibujuk. Tapi Pattimura menunjukkan kesejatian perjuangannya dengan tetap menolak bujukan itu. Di depan benteng Victoria, Ambon pada tanggal 16 Desember 1817, eksekusi pun dilakukan. 

Kapitan Pattimura gugur sebagai Pahlawan Nasional. Dari perjuangannya dia meninggalkan pesan tersirat kepada pewaris bangsa ini agar sekali-kali jangan pernah menjual kehormatan diri, keluarga, terutama bangsa dan negara ini.

Sumber : http://dokumen.tips

Wednesday, 18 May 2016

MARTHA Christina Tiahahu - Gadis Pemberani dari Maluku



MARTHA Christina Tiahahu adalah putri Paulus Tiahahu, Raja Negeri Abubu di Pulau Nusalaut. Ia lahir di Abubu, 4 Januari 1800. Ketika pecah Perang Saparua (1817), Martha baru berusia 17 tahun. Ia sudah dikenal luas sebagai srikandi Maluku. Namun sejarah tak pernah meneguhkan bahwa jojaro Nusalaut ini juga menempuh cara paling radikal yakni mogok makan.

Martha memang dilukiskan sebagai sosok perempuan dengan fisik dan mental yang kukuh. Jujaro hitam manis, rambut panjang terurai dengan ikatan kain berang, sorot matanya tajam. Sebilah tombak di tangan meneguhkan sifatnya yang kapista, pemberani yang berhati baja. Ketika sang ayah pergi bertempur, Martha tidak tinggal diam. Ia memilih ikut melintas laut, berperang di hutan-hutan dan Pantai Saparua.

Meskipun Belanda memiliki persenjataan lebih modern, kehadiran Martha mampu memompa semangat pasukan Pattimura yang mendapat dukungan luas rakyat Lease yakni Saparua, Haruku dan Nusalaut. Martha mengajak kaum perempuan membantu kaum pria dalam perang.

Ketika bergerilia dari hutan ke hutan, Martha selalu berada di tengah pasukan. Ia ikut tidur di hutan, ikut berunding di Gunung Saniri, hadir dalam Proklamasi Haria, dan turut menyerbu Benteng Duurstede dalam pertempuran terkenal tahun 1817.

Keberanian Martha teruji dan menjadi cerita tak terlupakan di Negeri Ouw dan Ullath. Suatu ketika, seorang nahkoda kapal Belanda turun dengan sekoci di Pantai Ullath. Martha datang menjemput di bibir pantai. Dengan bersenjatakan batu-batu, ia menghajar sang nahkoda sampai berlumuran darah. Sang nahkoda pun akhirrnya kembali ke kapal.

Meskipun sempat merengkuh kemenangan, namun pasukan Pattimura akhirnya dilumpuhkan Belanda yang punya banyak taktik perang. Parttimura dkk termasuk Paulus Tiahahu dihukum mati di Ambon. Sedangkan Martha hendak diasingkan di Pulau Jawa.

Sebagai tawanan perang, Martha diangkut dengan kapal perang Eversten dari Ambon ke Batavia. Di atas kapal itu, Martha yang sudah tidak berdaya masih sempat melakukan perlawanan terakhir. Ia menolak berkomunikasi dengan awak kapal. Tindakan lain yang dilakukan Martha adalah mogok makan. Tiap kali awak kapal mengantar jatah makan, Martha tidak menyentuhnya sama sekali. Ia mogok makan meskipun kondisi fisiknya sangat payah.

Martha menghembuskan nafas terakhir di atas kapal itu. Jenazahnya dibuang ke Laut Banda, 2 Januari 1818. Pemerintah Indonesia menghormati heroisme remaja Nusalaut ini dengan menganugerahkan gelar pahlawan kemerdekaan nasional Indonesia.

Namanya diabadikan menjadi nama KRI Martha Tiahahu. Sebuah monumen dari bahan perunggu juga dibangun di bukit Karangpanjang Ambon. Dari ketinggian itu, Martha berdiri menghadap ke Teluk Ambon nan elok. Tatapan matanya jauh ke depan.

Banyak orang datang berkunjung dan mengabadikan monumen ini. Namun tidak banyak yang ingat, Martha adalah putri raja, bertarung pada usia 17 tahun, dan menjadi pelaku aksi mogok makan pertama sepanjang sejarah Indonesia. Penulis Maluku Yop Lasamahu menjulukinya sebagai Mutiara dari Nusalaut.

Sumber : http://malukuonline.co.id

Monday, 16 May 2016

Johannes Leimena - Menteri Kesehatan Indonesia Pertama



Johannes Leimena (anak kedua dari empat anak pasangan Dominggus Leimena dan Elizabeth Sulilatu) lahir tanggal 6 Maret 1905 di Ambon. Ia keturunan keluarga besar Leimena dari Desa Ema di Pulau Ambon dan dikenal dengan nama panggilan "Oom Jo". Ia seorang Kristen yang berbudi luhur. Ayahnya seorang guru, dengan demikian ia terhitung keturunan golongan menengah (pada saat itu). Pada usia lima tahun Johannes telah menjadi yatim. Kemudian ibunya menikah lagi, dan ia diasuh oleh pamannya. 

Johannes kecil awalnya bersekolah di "Ambonsche Burgerschool" di Ambon karena paman yang mengasuhnya menjadi kepala sekolah di sana. Kemudian pamannya dipindahkan ke Cimahi. Keberangkatannya ke Cimahi merupakan titik balik dan kisah tersendiri bagi Johannes. Sebenarnya ibunya bersikeras tidak mengizinkan Johannes pergi, namun ia nekat menyelinap ke kapal dan baru menampakan diri saat kapal hendak bertolak. Tindakan nekatnya itu membuat ibunya pasrah dan berpesan agar pamannya mau menjadi pelindung baginya. Didikan pamannya yang penuh disiplin berhasil menempa Johannes dan menjadikannya murid yang berprestasi.

Tahun 1914, Johannes hijrah ke Batavia bersama pamannya. Di Batavia, Johannes melanjutkan studinya di "Europeesch Lagere School" (ELS), namun studinya hanya beberapa bulan saja, lalu ia pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (sekolah untuk anak asli orang Belanda, kini PSKD Kwitang), dan tamat tahun 1919. Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, Johannes memilih sekolah campuran dari berbagai golongan, yaitu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan tamat tahun 1922.

Setelah menyelesaikan studinya, Johannes yang mencoba mencari pekerjaan menemui kesulitan karena kursus-kursus yang dia masuki hanya dikhususkan untuk anak Indo-Belanda. Oleh sebab itu, Johannes menempuh pendidikan tinggi di sekolah kedokteran "STOVIA" (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) pada tahun 1930. Johannes mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930.

Pertama kali ia diangkat sebagai dokter pemerintah di "CBZ Batavia" (kini RS Cipto Mangunkusumo). Beberapa waktu kemudian ia ditugaskan di Karesidenan Kedu saat Gunung Merapi meletus. Setelah itu dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Emmanuel Bandung. Di rumah sakit inilah, saat bertugas dari tahun 1931 sampai 1941, ia bertemu dengan gadis pujaan hatinya yang kemudian menjadi istrinya (Wijarsih Prawiradilaga). Ia adalah putri seorang widana yang kala itu menjadi kepala asrama putri. Mereka menikah di Gereja Pasundan pada tanggal 19 Agustus 1933 dan dikaruniai 8 putri.

Setelah bekerja selama 11 tahun sebagai dokter swasta, ia melanjutkan studi dan mendalami ilmu penyakit dalam. Tanggal 17 November 1939 dengan dipandu oleh dekan sekolahnya, Prof. J.A.M. Verbunt, dan panitia pembimbing yang diketuai Prof. Siegenbeek van Heukelom, Dr. Leimena mempertahankan disertasi Ph.D-nya dengan judul "LeverfunctieĆ¢€”proeven bij Inheemschen" dan meraih gelar Doktor di Geneeskunde Hogeschool/GHS (Sekolah Tinggi Kedokteran), Batavia.

GERAKAN KEKRISTENAN DAN KEBANGSAAN

Perhatian Dr. Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan berkembang sejak pertengahan tahun 1920-an. Bermula di Bandung, ia acapkali mendengar pidato Presiden Soekarno. Saat itu Dr. Leimena belum akrab dengan Presiden Soekarno. Kedekatannya dengan Presiden Soekarno bermula di rumah sakit tempatnya bekerja. Waktu itu kesehatan Presiden Soekarno kurang baik setelah berkunjung ke Akademi Militer di Tangerang, kemudian ia diperiksakan di rumah sakit tersebut. Sejak itu hubungan mereka semakin erat.

Keprihatinan Dr. Leimena atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada "Gerakan Oikumene". Jiwa oikumene dan nasionalis yang melekat pada dirinya tidak hanya mendorongnya terlibat pada tugas profesionalnya (dokter) tetapi juga terlibat dalam aktivitas politik. Sejak menjadi mahasiswa, ia sudah aktif di kalangan nasional dan masuk organisasi politik "Sarekat Ambon" (Serikat Ambon). Sejak tahun 1925 aktif dalam perkumpulan pemuda "Jong Ambon" sebagai Ketua Umum serta turut dalam persiapan "Sumpah Pemuda" pada 28 Oktober 1928.
Pada zaman Jepang dan revolusi kemerdekaan ia pun sudah ikut berjuang dan mengabdi penuh kepada Republik Indonesia. Tahun 1926, Dr. Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Selama di STOVIA, ia benar-benar menunjukkan nilai kekristenan sekaligus kebangsaannya, yakni dengan aktif di berbagai gerakan.

Setelah lulus studi kedokteran STOVIA, Dr. Leimena mendirikan sekaligus menjadi ketua CSV (Christelijke Studenten Vereeniging) yang pertama saat ia masih menginjak tahun ke-4 di bangku kuliah. CSV merupakan organisasi ekstrakemahasiswaan yang merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950. Selain itu, ia juga terpilih sebagai ketua umum Partai Kristen Indonesia (PARKINDO) tahun 1950-1957, 5 tahun setelah organisasi ini dibentuk. Hal ini pula yang kemudian mengantarkannya ke berbagai jabatan penting di pemerintahan.

Kepribadiannya yang sederhana dengan iman Kristen yang sejati dan teguh membuatnya bisa diterima oleh semua golongan. Sebagai pemimpin Partai Kristen Indonesia (PARKINDO), ia selalu mendapat tempat dalam berbagai kabinet karena pendiriannya untuk kepentingan negara di atas segala-galanya. Selain di PARKINDO, Dr. Leimena juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, kini PGI) pada tahun 1950. Di lembaga ini ia pernah dipilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi gereja dan negara.

Sebagai seorang tokoh politik, Dr. Leimena pernah menduduki berbagai jabatan. Dr. Leimena pernah menjabat dalam 18 kabinet yang berbeda (1946 - 1966). Selain menjadi Menteri Kesehatan Indonesia yang pertama, ia juga menjabat sebagai Menteri Kesehatan Indonesia yang terlama (selama 21 tahun/delapan kali masa jabatan) dari 1945 -- 1966. Ia juga menjadi pejabat Presiden RI tujuh kali. Bahkan menurut seorang saksi sejarah, Roeslan Abdulgani, Soekarno yang seorang sekuler hendak menyiapkan Leimena menjadi calon presiden, menurut Roeslan Abdulgani: "Soekarno adalah Fenomeen Nasional yang mempunyai 'Zesde Zintuig' (indera keenam); tujuh kali Leimena ditunjuk oleh Bung Karno sebagai Pejabat Presiden; tidak terdengar suatu keberatan atau anti".

Ketika Orde Baru berkuasa, Dr. Leimena mengundurkan diri dari tugasnya sebagai menteri, namun ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Usai aktif di DPA, ia kembali melibatkan diri di lembaga-lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya, seperti Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain. Ketika Parkindo berfusi dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), Dr. Leimena diangkat menjadi anggota Deperpu (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI, dan pernah pula menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini.

RIWAYAT KARIR
  • Menteri Muda Kesehatan Kabinet Sjahrir II (1946)
  • Wakil Menteri Kesehatan Kabinet Sjahrir III (1946 -- 1947)
  • Menteri Kesehatan Kabinet Amir Sjarifuddin I (1947)
  • Menteri Kesehatan Kabinet Amir Sjarifuddin II 1947 -- 1948)
  • Menteri Kesehatan Kabinet Hatta I (1948 -- 1949)
  • Menteri Negara Kabinet Hatta II (1949)
  • Menteri Kesehatan Kabinet Republik Indonesia Serikat (1949 -- 1950)
  • Menteri Kesehatan Kabinet Natsir (1950 -- 1951)
  • Menteri Kesehatan Kabinet Sukiman-Suwirjo (1951 -- 1952)
  • Menteri Kesehatan Kabinet Wilopo (1952 -- 1953)
  • Menteri Kesehatan Kabinet Burhanuddin Harahap (1955 -- 1956)
  • Menteri Sosial Kabinet Djuanda (1957 -- 1959)
  • Menteri Distribusi Kabinet Kerja I (1959 -- 1960)
  • Wakil Menteri Utama merangkap Menteri Distribusi Kabinet Kerja II (1960 -- 1962)
  • Wakil Menteri Pertama I Kabinet Kerja III (1962 -- 1963)
  • Wakil Perdana Menteri II Kabinet Kerja IV (1963 -- 1964)
  • Menteri Koordinator Kabinet Dwikora I (1964 -- 1966)
  • Wakil Perdana Menteri II merangkap Menteri Koordinator, dan Menteri Perguruan Tinggi & Ilmu Pengetahuan Kabinet Dwikora II (1966)
  • Wakil Perdana Menteri untuk urusan Umum Kabinet Dwikora III (1966)
Terlepas dari sikap nasionalis sekuler Dr. Leimena, dia adalah seorang Kristen sejati. Kedekatan hatinya akan Tuhannya terlihat dari sikap tulus dan beraninya, yang tampak dari berbagai sikap dan perilakunya, misalnya pada peristiwa Gerakan 30 September 1965. Ia meminta Soekarno untuk meninggalkan Halim yang disebut-sebut sebagai Markas PKI menuju Istana Bogor. Ini merupakan langkah besar yang menyelamatkan Indonesia. Contoh lainnya adalah ketika dia memprotes sikap Soeharto yang kasar kepada Presiden Soekarno pada tanggal 2 November 1965, padahal pada saat itu Soeharto memegang tampuk tertinggi militer. Juga, dengan kebesaran hatinya ia berusaha membujuk Kolonel Kawilarang untuk segera bertindak agar korban peristiwa RMS di Maluku tidak semakin banyak.

Bagi Dr. Leimena, agama Kristen yang dianutnya tidak menghalangi dirinya menjadi seorang nasionalis Indonesia. Demikian juga, kenegarawannya sebagai seorang nasionalis Indonesia tidak menghalangi dirinya menjadi pengikut Kristus.

Dr. Johannes Leimena meninggal dunia pada tanggal 29 Maret 1977 di Jakarta.

Sumber  : http://biokristi.sabda.org