Showing posts with label Dari Papua. Show all posts
Showing posts with label Dari Papua. Show all posts

Tuesday, 24 May 2016

Silas Papare - Pendiri Badan Perjuangan Irian

Silas Papare adalah seorang yang berjuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Silas Papare lahir di Serui, Papua, 18 Desember 1918. Ia menyelesaikan pendidikan di Sekolah Juru Rawat pada tahun 1935 dan bekerja sebagai pegawai pemerintah Belanda. Kegigihannya dalam berjuang untuk kemerdekaan Papua membuatnya sering berurusan dengan aparat keamanan Belanda. Usahanya untuk mempengaruhi Batalyon Papua untuk memberontak pada akhirnya membuat ia harus masuk penjara di Jayapura.

Saat menjalani masa tahanan di Jayapura, Silas berkenalan dengan Dr. SamRatulangi, Gubernur Sulawesi yang diasingkan oleh Belanda di tempat tersebut. Perkenalannya dengan Sam Ratulangi membuat semakin yakin bahwa Papua harus bebas dan bergabung dengan Republik Indonesia. Hal tersebut membuat ia akhirnya mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Akibatnya Silas kembali ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di Biak. Namun kemudian ia berhasil melarikan diri menuju Yogyakarta.

Pada bulan Oktober 1949, ia mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah RI. Silas meninggal di Serui, Papua, 7 Maret 1978.

Guna mengenang jasa besarnya, nama Silas Papare di abadikan sebagai salah satu kapal selam perang, yakni KRI Silas Papare. KRI Silas Papare adalah sebuah Korvet kelas Parchim yang dibuat untuk Volksmarine / AL Jerman Timur pada akhir 70-an. Penamaan menurut Pakta Warsawa adalah Project 133. Kapal ini didesain untuk perang anti kapal selam di perairan dangkal/pantai. Oleh TNI AL kapal ini dimodifikasi dengan menambahkan kapasitas BBM untuk patroli lebih lama di laut.

Riwayat Singkat
Ia menyelesaikan pendidikan di Sekolah Juru Rawat pada tahun 1935 dan bekerja sebagai pegawai pemerintah Belanda. Ia sangat gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua sehingga ia sering berurusan dengan aparat keamanan Belanda dalam memerangi kolonialisme Belanda dan pada akhirnya ia dipenjarakan di Jayapura karena memengaruhi Batalyon Papua untuk memberontak.

Semasa menjalani masa tahanan di Serui, Silas berkenalan dengan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi yang diasingkan oleh Belanda ke tempat tersebut. Perkenalannya tersebut semakin menambah keyakinan ia bahwa Papua harus bebas dan bergabung dengan Republik Indonesia. Akhirnya, ia mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Akibatnya, ia kembali ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di Biak. Namun, ia kemudian melarikan diri menuju Yogyakarta.

Pada bulan Oktober 1949, ia mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah RI

Latar belakang
Di Yogyakarta, Silas Papare membentuk Badan Perjuangan Irian yang berusaha keras untuk memasukkan wilayah Irian Jaya ke dalam negara Indonesia. Silas Papare kemudian ditunjuk menjadi salah seorang delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York pada tanggal 15 Agustus 1962 yang mengakhiri perseteruan antara Indonesia dan Belanda perihal Irian Barat. Perjanjian itu ditindaklanjuti dengan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada tahun 1969 di mana rakyat Irian Barat memilih bergabung dengan NKRI. Silas Papare wafat dan dimakamkan di Serui pada tanggal 7 Maret 1978.

Atas jasa-jasanya Silas Papare  dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 077/TK/1993, Tgl. 14 September 1993.

Salah satu kapal perang milik TNI AL mendapat kehormatan menggunakan nama KRI Silas Papare yaitu sebuah korvet kelas Parchim.

Sumber : http://e-biodata.net

Wednesday, 18 May 2016

Marthen Indey - Tokoh Penyatuan Papua ke NKRI



Marthen Indey dilahirkan di Doromena, Jayapura pada tanggal 16 Maret 1912. Sebelumnya, pria yang akrab disapa Marthen ini merupakan polisi Belanda yang kemudian berbalik mendukung Indonesia setelah bertemu dengan beberapa tahanan politik yang diasingkan di Digul, salah satunya adalah Sugoro Atmoprasojo. Saat itu, ia bertugas untuk menjaga para tahanan politik yang secara tidak langsung berhasil menumbuhkan jiwa nasionalismenya dalam pertempuran melawan penjajah. 

Jiwa nasionalisme Marthen memang tumbuh sangat kuat, namun beberapa upaya yang direncanakan olehnya dan puluhan anak buahnya dalam menangkap aparat pemerintah Belanda berulang kali gagal. Perjuangan Marthen dalam membela tanah kelahirannya sempat gagal beberapa kali, namun hal itu tidak menyurutkan niat dan semangat juang pria lulusan Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat ini menyerah dan tunduk pada musuh begitu saja.

Pada tahun 1944, sekembalinya dari pengungsian di Australia selama tiga tahun, Marthen ditunjuk sekutu untuk melatih anggota Batalyon Papua yang nantinya akan difungsikan sebagai tentara pelawan Jepang. Setahun berikutnya, ia diangkat sebagai Kepala Distrik Arso Yamai dan Waris selama dua tahun. Dalam tahun-tahun tersebut Marthen tak hanya tinggal diam, namun ia melakukan kontak terhadap mantan para pejuang Indonesia yang pernah ditahan di Digul. Dalam kontak tersebut, mereka merencanakan suatu pemberontakan untuk mengusir Belanda dari tanah Cendrawasih. Namun, usaha mereka gagal begitu Belanda mencium gelagat Marthen dan rencana mereka batal diekskusi.

Di tahun ia merangkap menjadi Kepala Distrik Arso Yamai dan Waris, tepatnya pada tahun 1946, Marthen bergabung dengan sebuah organisasi politik bernama Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang kemudian dikenal dengan sebutan Partai Indonesia Merdeka (PIM). Saat menjabat sebagai ketua, Marthen dan beberapa kepala suku yang ada di Papua menyampaikan protesnya terhadap pemerintahan Belanda yang berencana memisahkan wilayah Irian Barat dari wilayah kesatuan Indonesia. Mengetahui pihaknya membelot, Belanda menangkap Marthen dan membuinya selama tiga tahun di hulu Digul karena pasukan Belanda merasa dikhianati oleh aksinya tersebut.

Belum berhasil merebut Irian Barat untuk disatukan kembali dengan wilayah kesatuan Indonesia, pada tahun 1962 Marthen bergerilya untuk menyelamatkan anggota RPKAD yang didaratkan di Papua selama masa Tri Komando Rakyat (Trikora). Di tahun yang sama, Marthen menyampaikan Piagam Kota Baru yang berisi mengenai keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah kesatuan Indonesia. Berkat piagam tersebut, Marthen dikirim ke New York untuk melakukan perundingan dengan utusan Belanda tentang pengembalian Irian Barat yang selama ini berada di bawah pemerintahan sementara PBB ke dalam wilayah kesatuan Indonesia.

Akhirnya, dalam perundingan tersebut, Irian Barat resmi bergabung dengan wilayah kesatuan Indonesia dan berganti nama menjadi Irian Jaya. Berkat jasanya, Marthen diangkat sebagai anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sejak tahun 1963 hingga 1968. Tak hanya itu, ia juga diangkat sebagai kontrolir diperbantukan pada Residen Jayapura dan berpangkat Mayor Tituler selama dua puluh tahun.

Marthen meninggal pada usia 74 tahun tepatnya pada tanggal 17 Juli 1986. Berkat jasanya terhadap negara, Marthen mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 14 September 1993.

Sumber : http://profil.merdeka.com

Monday, 16 May 2016

Johanes Abraham Dimara - Pahlawan Nasional dari Biak


Johanes Abraham Dimara dilahirkan pada tanggal 16 April di Korem, Biak Utara, Provinsi Papua. Pada usia 13 tahun ia diambil sebagai anak angkat oleh Elias Mahubesi, seorang anggota polisi Ambon dan membawanya ke Ambon. Di kota ini Dimara menyelesaikan pendidikan setingkat sekolah dasar pada tahun 1930, kemudian memasuki sekolah pertanian di Laha. Dari tahun 1935 sampai 1940 ia menempuh pendidikan sekolah agama (Injil). Sebagai lulusan sekolah agama, ia bekerja sebagai guru Injil di Kecamatan Leksuka, Pulau Buru.
 
1. Memasuki Dunia Keprajuritan 

Tatkala balatentara Jepang memasuki Pulau Buru pada awal 1942 semua sekolah ditutup. Pendeta pemimpin sekolah yang berperan sebagai penyandang dana ditangkap oleh Jepang. Para guru pembantunya menjadi penganggur. Pada suatu hari datang seorang prajurit yang tengah mencari tenaga pembantu prajurit yang asli berasal dari Papua. Prajurit Jepang itu bertanya kepada penduduk : “Di sini Papua orang adakah?”, “ada di sini”, jawab penduduk. (Panggir), (Panggir)!. Penduduk memberitahukan dan orang Papua yang dimaksud ia adalah Johanes Papua seorang guru agama. Dengan rasa berdebar-debar takut dan penuh tanda tanya, guru tersebut memenuhi ajakan penduduk menghadap si Jepang. Ia dibawa menghadap Komandan pendudukan P. Buru, bernama Ishido, Kepala Pemerintahan dan (Watanabe) Komandan pasukan pendudukan.

“Kamuka Papua orangka?”, Tanya Ishido, “Ya, saya Papua”, jawab guru muda itu yang masih berusia 26 tahun. “Joto (Bagus), Joto. Mauka soma dai Nipponka mau jadi Polisika?”. Guru muda itu menjawab spontan, “Mau, mau!”. Memasuki dunia kemiliteran sudah barang tentu dia harus berlatih tata cara militer terutama penggunaan senjata. Penampilan Pak Guru Johanes Papua berubah setelah mengenakan seragam. (Dia) diangkat sebagai Kempei-ho (Pembantu Kempei Kesatuan Polisi Militer atau polisi milite Jepang) yang ditempatkan di Markas Kempetai di Pulau Buru. Tugas seorang Kempei ho sebagai penyelidik keamanan, mengobservasi kegiatan orang-orang yang diduga sebagai mata-mata musuh atau membantu musuh sampai perang berakhir.


2. Masa Belajar

Siapakah identitas Johanes Papua, seorang guru Bantu agama yang amat dikenal di Namka ini? Nama sebenarnya adalah Johanes Abraham Dimara (Arabei). Ia lahir di Biak Utara, pada 14 April 1916, dengan Ayahnya seorang Korano (Kepala Kampung) bernama Willem Dimara. Seperti anak-anak lain, Arabei oleh ayahnya dimasukkan ke sekolah dasar di kampungnya, di bawah asuhan Tuan Guru Simon Soselisa. Pada suatu saat ada Inspeksi dari schoolopziener (Pemilik sekolah) yang dikawal oleh seorang Kepala Polisi dari Ambon bernama Mahabesi. Rupanya Mahabesi tertarik atas kecerdasan Arabei, tatkala menjawab arti kata yang dibacanya. Tanpa pikir panjang Mahabesi memutuskan, “Anak ini harus sekolah di Ambon.”. “Anak siapa dia?”, Tanya Mahabesi kepada Tuan Guru Soselisa. “Anak Korano Tuan!”. Mahabesi kemudian memanggil orang tuanya, menyatakan keinginannya untuk mengadopsi anak cerdas ini. Orang Tuanya menyatakan dengan senang hati, dengan harapan anaknya akan memperoleh pendidikan yang tinggi. Arabei meninggalkan kampung kelahirannya menuju ke dunia barunya Ambon. Kini Kepala Polisi Mahabesi telah sah menjadi ayah angkatnya. Nama Arabei, diganti dengan nama baptis Johanes Abraham. Nama marga tetap digunakan. Nama barunya menjadi Johanes Abraham Dimara. Johanes, pendidikan dasarnya menyelesaikan pada 1930, kemudian dilanjutkan ke sekolah Pertanian Tamat pada 1935. Akhirnya dia menjadi guru sekolah Injil di Kecamatan (Leksula), P. Buru di bawah asuhan seorang Pendeta Belanda.


3. Masa Perjuangan Kemerdekaan

Setelah Jepang Menyerah sebagai seorang bekas Kempei-ho, tidak jelas pekerjaannya. Namun ada yang berubah dalam kejiwaan Dimara. Propaganda Jepang yang anti penjajah orang kulit putih dan patriotisme sangat mendalam dirasakan, Diskriminasi rasional, pendidikan, jabatan yang dipraktekkan oleh pemerintah Hindia Belanda membuka kesadarannya bahwa betapa mulianya sebagai manusia yang merdeka. Pada saat itu hubungan dengan Jakarta sama sekali terputus, demikian pula berita-berita tentang keadaan di lain-lain daerah. Karena pada masa perang Pulau Buru termasuk dalam wilayah perang, medan pertempuran antara Balatentara melawan Tentara Amerika Serikat. Markas Komando Pasukan Jepang di Ambon terisolasi, terputus komunikasi dengan daerah lain. Berita Proklamasi Kemerdekaan baru dia dengar pada bulan Mei 1996, setelah ada ekspedisi dua kapal kayu ke Maluku yaitu KM Sindoro dan KM Semeru. KM Sindoro yang dinahkodai oleh Letnan Ibrahim Saleh dan jurumesin Yos Sudarso sampai perairan Pulau Buru, yang berjarak 500 m dari Namka, Kota utama Pulau Buru. Kedatangan kapal ini menarik perhatian penduduk karena berbendera Merah Putih. Beberapa orang pemuda yang dipimpin Dimara berusaha mendekat.

Dengan sebuah perahu dayung akhir berhasil mencapai Kapal Sindono. Mereka bertemu dengan Komandan Kapal Ibrahim Saleh dan Perwira Pertama Letnan Yos Sudarso. Mereka saling berkenalan. Dimara dan kawan-kawannya menyarankan agar kapal berlabuh di Namelek yang jaraknya satu kilometer dari tempat mereka berhenti. Kedatangan ekspedisi ini disambut dengan kecurigaan polisi setempat. Mereka mencegah agar para awak kapal turun ke darat. Namun Johanes Papua alias Dimara ini dan kawan-kawannya meyakinkan polisi bahwa ia akan mencegah mereka turun dari kapal. Polisi terbujuk, menyerahkan penjagaan kepada para pemuda Dimara dan kawan-kawannya tetap berencana akan mendaratkan kelompok ekspedisi. Beberapa orang kawannya yang terpercaya Abdullah Kaban, Abdullah bin Talib, Adam Patisahursiwa, seorang mantan Camat Namka yang sangat anti Belanda. Bahkan Adam mengajak anak buahnya untuk ikut bersama Dimara menuju Kumbrasa, yang jaraknya lebih kurang 12 Km dari Nametek. Mereka menghubungi Raja (kepala desa) Kumbrasa Bahadin Besi dan Raja Namka, seorang tokoh yang berpengaruh besar, ternyata mendukung rencana Dimara dan kawan-kawannya.

Pada 6 April 1946 beberapa orang pemuda telah berkumpul di rumah Raja Bahadin : Anton Papilaya salah seorang anggota ekspedisi yang berhasil turun dari kapal diperkenalkan dengan para pemuda yang sedang berkumpul. Dengan tekad yang mantap mereka berencana menyerang Namka untuk mengakhiri kekuasaan NICA di Pulau Buru, Adam memberi semangat : “Inilah saatnya untuk menghabisi Belanda!”. Johanes Papua atau Dimara dipilih sebagai salah seorang pemimpinnya, karena selain pemberani dia telah memperoleh pelatihan militer pada masa pendudukan Jepang. Pimpinan lainnya dipilih Anton Papilaya, karena dia seorang pemberani yang datang dari Jawa. Tatkala gerakan penyerangan ke Namka yang dipersiapkan seorang anggota polisi yang membantu pemuda memberitahukan bahwa kapal Sindoro telah disergap oleh Belanda dan ditarik ke Ambon. Pada bulan April 1946, para pemuda yang bergerak dari Kumbrasa telah mendekat ke Namka. Sebelum itu, kepada rakyat diumumkan bahwa Residen Maluku Van Ball akan datang ke Namka. Masyarakat Namka diperintahkan untuk membersihkan Kota untuk menyambut kedatangan Residen.

Pada 8 April 1946, para pemuda yang berkekuatan 300 orang bergabung dengan masyarakat berpura-pura ikut kerja bakti membersihkan kota. Sampai di depan kantor polisi mereka menyergap sejumlah polisi dan langsung menyerah. Jatuh korban seorang polisi tertembak. Serangan dilanjutkan ke kantor Kecamatan (Asisten Wedana), Bendera Merah Putih Biru yang berkibar di depan kantor diturunkan dan dirobek birunya dinaikkan kembali menjadi merah putih. Para pemuda secara serempak memekik : “Merdeka! Merdeka!”. Selanjutnya mereka bergerak memasuki kota. Kota Namka berhasil dikuasai pemuda, dan selama 5 hari. Pada 12 April 1946, Belanda mengirimkan pasukannya Kapal Perang HMS Princes Irene, menurunkan sekoci yang memuat beberapa orang serdadu KNIL. Salah seorang diantara mereka menembaki rumah penduduk secara membabi buta. Sebaliknya seorang pemuda nekad menembak serdadu KNIL dari jarak dekat. Ia terkapar dan tewas, kawan-kawannya bergegas kembali ke sekoci. Setelah insiden tersebut Namka menjadi sangat sepi. Pasukan penyerbu meninggalkan kota dan para kepala kampung secara diam-diam pulang ke rumah masing-masing.

Pada pagi hari pasukan Belanda telah menguasai dan melakukan operasi pembersihan. Para Kepala Kampung tatkala ditanya siapa yang memimpin serangan, mereka menyebut dua nama : Johanes Papua dan Anton Papilaya. Nasib Anton Papilaya sedang sial. Ia tertangkap dan dibawa ke Ambon. Selanjutnya ia diajukan ke pangadilan dan dijatuhi hukuman penjara. Johanes Papua bernasib lebih baik. Ia bersembunyi di sebuah Kampung Islam dan dilindungi oleh kepala kampung. Dia diberi sebuah perahu untuk melarikan diri keluar Pulau Buru. Dalam pelariannya Johanes Papua mengarahkan perahunya ke Pulau Sanana. Rupanya Kepala Kampung tidak bersahabat. Kedatangannya dilaporkan kepada petugas keamanan. Johanes Papua bersama dua orang kawannya Abdullah Kaban dan Adam Patisahursiwa mantan asisten wedana ditangkap, ditahan di kantor Polisi Sanana. Karena takut mereka lari, Kepala Polisi memerintahkan tangan mereka diborgol. Ketika kapal penjemput datang dari Ambon, Mereka diangkat ke sebuah sekoci. Dermaga Pelabuhan Sanana sangat pendek. Kapal perang tidak bisa merapat. Sebelum diangkat ke sekoci, Kepala Polisi memerintahkan agar kaki kedua orang ini dimasukkan ke karung, “Kasih masuk dia ke karung. Ikat sampai pinggang!”, Perintahnya. Dengan tangan terikat, kaki dalam karung ia digelandang ke sekoci. Karung dilepas tatkala mau naik ke kapal. Tiba di kapal mereka langsung dijebloskan ke sebuah kurungan yang berukuran satu meter persegi, hanya cukup untuk jongkok. Turun dari kapal langsung diangkut ke penjara Pohon Pale, sambutan “selamat datang” sudah dipersiapkan oleh pegawai penjara. Mereka dihajar habis-habisan. Baru kemudian dimasukkan ke sel yang sempit. Buang air, makan, dan tidur di tempat yang sama.
Pada Bulan Juli 1946, Dimara dan kawan-kawannya diajukan ke pengadilan militer Batu Gajah Ambon. Sebuah Jeep datang menjemputnya. Tangan dan kakinya dirantai, dengan susah payah ia naik ke Jeep. Tidak ada yang membantu. Di dalam sidang Hakim Ketua yang bernama Van der Room ditanya,
“Saudara Kepala Merah Putih ya?”
“Ya, ya”, jawab Dimara
“Saudara orang Papua dari mana?”
“Saya dari Biak”
Pantas orang Biak itu kepala keras.

Tanya Jawab berlangsung seru. Karena Dimara tetap merasa tidak bersalah. Ia menolak semua tuduhan. Akhirnya vonis pun jatuh. Dua puluh tahun penjara untuk Dimara, dan dikembalikan tempat semula. Karena panjangnya masa hukuman, Dimara diangkat sebagai Foreman. Pada suatu kesempatan, tatkala para sipir kurang waspada memerintahkan Dimara untuk bekerja keluar tembok, suatu kesempatan emas untuk membebaskan diri. Ia bersama dua orang kawannya mengecoh petugas. Kabur dari pengawasan, melarikan diri dari penjara sudah direncanakan secara masak-masak, menunggu kesempatan. Tujuan mereka Pulau Seram, Tanah tumpah darah kedua kawannya. Pada malam hari, setelah bersembunyi di kampung di pinggir pantai, Dimara dibantu oleh dua orang pemuda Kampung Wakasiha dan menyebrang ke Pulau Seram. 

Peristiwa Pelarian orang-orang Merah Putih dari penjara Ambon menjadi berita besar aparat keamanan dan petugas pemerintah ditugaskan untuk menangkapnya. Kisah pelarian para pendukung Merah Putih amat dramatis, mereka singgah dari pulau ke pulau untuk menghindari penangkapan. Tatkala tiba di pulau Manipa, mereka menginap di rumah Haji Musa. Rupanya Polisi telah memperoleh informasi mengenai keberadaan mereka. Rumah Haji Musa digrebek oleh polisi yang didatangkan dari Piru, pada saat Pak haji dan para tamunya tidur lelap. Suasana malam yang gelap gulita menguntungkan para tamu. Apalagi terjadi keributan tatkala penggrebekan. Para tetangga terbangun, mendatangi rumah Haji Musa ingin tahu apa yang terjadi. Kerumunan tetangga Haji Musa menyulitkan polisi dan kesempatan emas bagi Dimara dan kawan-kawannya untuk meloloskan diri.dan bersembunyi di dalam hutan. Sejak ia melarikan diri dari penjara pada akhir tahun 1946, rupanya ia hidup dalam ketakutan. Sepanjang pelariannya akhirnya kembali ke titik awal, kota Namka Pulau Buru. Sebenarnya di tempat tinggal asalnya ini tidak ada lagi orang yang mengenalinya. Polisi pun tidak pernah merasa terganggu, karena Johanes Papua manusia yang dicari-cari sudah berada di penjara. Ia tinggal di rumah Raja Ambrasa Bahadiri Besi. Kemanapun ia leluasa bepergian. Peran tokoh provokator Merah Putih telah dilupakan oleh masyarakat.

Pada suatu siang ia melihat dua orang polisi berpatroli. Tidak pernah diungkapkan alasannya pada saat itu, mengapa ia menghampiri polisi yang sedang berpatroli di kampung Hatawao itu dan berkata : “saya Johanes Papua, mari sama-sama pergi ke Namka. Saya menyerah”. Mereka terkejut. Manusia yang paling dicari telah berada dihadapannya. (Monuputy) Komandan Polisi Namka menerima penyerahannya. Tiga hari kemudian sebuah motor boat dengan dirantai tangan dan kakinya. Polisi masih “Trauma” akal licik orang Papua ini. Tiba di Ambon, langsung di bawa ke tempat semula, Rumah penjara Pohon Pule. Sekalipun dijaga secara ketat, perlakuan terhadap dirinya berbeda, apakah karena ada perkembangan politik atau sebab lain tidak ada sumber yang ditemukan. Mungkin ia dikategorikan sebagai terpidana (SOB) artinya tawanan perang. Tidak terlalu lama ditahan di penjara Pohon Pule, Pada Bulan Agustus 1947 bersama 12 orang lainnya dipindahkan ke Rumah Penjara Trungku Layang di Makassar. Ternyata di rumah penjara ini terdapat 3000 tahanan. Di dalam tahanan ini ia berkenalan dengan Andi Bahtiar, Hasanuddin, Andi Arsad yang ternyata mereka adalah pejuang-pejuang Sulawesi Selatan bukan tahanan kriminal. Pada akhir bulan Desember 1949, Dimara dibebaskan dari penjara karena perubahan situasi politik. Pemeruntah Belanda telah mengakui kedaulatan RI. Keluar dari penjara ia tinggal tiga bulan di Makassar, kemudian kembali ke Ambon. Situasi di Ambon sedang memanas, Gerakan Republik Maluku Selatan sedang naik daun. Dimara mendapat ancaman akan dibunuh. Demikian pula anggota Merah Putih lainnya diteror, diancam akan dibunuh. Terpaksa ia dan kawan-kawannya kembali ke Makssar. Tiba di Makassar ia menghadap Komandan Batalyon Pattimura Mayor Pieters dan melaporkan situasi di Ambon. Soumofkil telah memproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS). Tanpa prosedur administrasi militer yang rumit, ia langsung diterima sebagai anggota Batalyon Pattimura. Pada bulan Juli Batalyon Pattimura diperintahkan berangkat ke Pulau Buru. Dimara dimasukkan dalam Kompi Letnan Mailoa. Rupanya di Pulau Buru, terutama Namka, pertahanan pasukan RMS sangat kuat, yang dipimpin oleh Liestieka mantan Sersan Mayor Baret Hijau KNIL. Kekuatan mereka lebih kurang satu kompi 150 orang.

Pada 14 Juli 1950 pasukan TNI didaratkan di Pulau Buru. Pendaratan TNI di Namka ini amat dramatis. Pasukan RMS yang berada dibalik pohon-pohon sagu melepaskan tembakan tanpa henti. Dengan bantuan tembakan senjata berat dari (korvet) Pattimura. Pasukan TNI berhasil mendarat, dan merebut Namka. Pasukan pendarat melanjutkan gerakannya ke Seram. Di Pulau Buru ditempatkan dua Batalyon, Batalyon Pellupessy dan Batalyon Pieters, Kesatuan Induk Dimara. Dalam pertempuran ini Dimara tertembak di bahunya. Ia ditolong oleh penduduk, dibawa ke markas komando batalyon. Karena lukanya dianggap parah dokter batalyon menyarankan agar Dimara dirawat di Makassar. Ia dirawat di rumah sakit Stella Mario.

Beberapa bulan setelah terjadi peristiwa pembangkangan Kapten Azis (April 1950), Presiden RIS Ir. Soekarno melakukan perjalanan dinas ke Makassar. Pada kesempatan itu Presiden mengunjungi para prajurit yang dirawat di rumah sakit itu. Ada seorang pasien yang menarik perhatian Presiden. Presiden menanyakan identitasnya. “Itu orang Papua”, jawab dokter Mailoa yang mendampingi Presiden. Presiden menghampirinya dan terjadi tanya jawab singkat. Setelah sembuh dari luka-lukanya, Dimara bersama seorang kawannya pergi ke Jakarta, menginap di rumah Mahmud Rumagesang, seorang putra Papua yang di angkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Baginya yang penting sudah melihat Jakarta dari dekat. Dari Jakarta Dimara kembali ke Ambon. Karena merasa sebagai anggota militer, ia melapor kepada pejabat militer tertinggi di wilayah Maluku, Letnan Kolonel Suprapto Sokowati Komandan Resimen Infranti 25/ Maluku. Ia mendapat tugas membentuk satu organisasi perjuangan pembebasan Irian Barat. Organisasi terbentuk diberi nama Organisasi Pembebasan Irian (OPI). Beliau diangkat sebagai Pembantu Letnan Satu (Peltu), kemudian diberi jabatan Komandan Peleton Perhubungan Resimen Infranti 25/ Tentara dan Teritorium VIII di pulau Seram.


4. Komandan Pasukan Infiltran

Organisasi Pembebasan Irian adalah organisasi rahasia yang bertugas melatih para prajurit yang terdiri atas orang suku Papua. Mereka diseleksi secara ketat,. Pusat pelatihannya (Base camp) di Ambon. Tugasnya, melakukan Infiltrasi ke daratan Irian, membangun opini masyarakat agar berpihak kepada NKRI. Pembentukan organisasi untuk pendukung diplomasi yang dilakukan forum PBB. Pada suati hari, Dimara memperoleh panggilan dari Jakarta, dari Presiden Soekarno. Presiden memberikan perintah, “Anak dimara, Bapak perintahkan masuk Irian Barat dengan pasukanmu. Bagaimana pun Anak harus berbuat sesuatu”. Peristiwa itu terjadi pada 3 April 1954. Dua minggu kemudian tepatnya 14 Oktober 1954, ia dipanggil Komandan Resenian Infranter 25/TT VII, Kolonel Sokowati untuk membicarakan penugasannya masuk daratan Irian Barat. Para anggota OPI yang pernah di latih di Base camp dipanggil dan dilatih kembali selama satu minggu. Suatu latihan fisik dirasakan berat oleh para anggotanya. Bagi Dimara ada satu hal yang dirasakan amat berat, yaitu meninggalkan isteri yang sedang mengandung tua. Terjadi pergumulan batin antara tugas dan keluarga. Ia melapor kepada Kolonel Sokowati tentang keluarganya. Sokowato menjawab, “Jangan khawatir saya kasih rumah di Ambon.”

Pada saat terakhir Dimara ditunjuk sebagai Komandan pasukan dengan kekuatan satu peleton atau 40 orang. Pada 17 Oktober 1954, dimulai hari H operasi dengan sebuah kapal motor berangkat dari Ambon, menuju Dobo Kepulauan Aru, tiba pada tanggal 19 Oktober 1954. Pada 25 Oktober 1954, Para Infiltran menumpang kapal penyelam mutiara menuju Pulau Walialu dilanjutkan ke Teluk Etna (Etna Baay) atau bahasa local menyebut Etna Bae. Di tengah pelayaran kepergok patroli polisi Belanda, namun tidak terjadi kontak tembak. Sebagian dari mereka terjun ke Laut berenang menyelamatkan diri.Seorang Polisi Belanda, bernama Louis Van Kricken tinggal sendiri dalam perahu. Ia ditangkap dan ditawan bersama empat orang tawanan lain, Van Krieken dibawa ke Dobo. Peristiwa tertangkapnya polisi Belanda ini terjadi heboh, politik surat-surat kabar nasional memberitakan peristiwa ini. Pasukan Dimara akhirnya berhasil mendarat di daerah Etna Bae (Etna Baay), kemudian masuk ke Hutan.

Pasukan Belanda menyambut kedatangan Dimara dan anak buahnya. Sebuah pesawat pengintai terbang berkeliling di titik lokasi. Anak buah Dimara diketahui secara pasti. Belanda mendatangkan pasukannya. Terjadi pertempuran di dekat Telaga Yamor. Pasukan Dimara berhasil disergap 11 orang gugur. Yang lari berhasil ditangkap termasuk Dimara. Jumlah yang tertawan 20 orang kemudian di angkut ke Sorong. Setelah ditahan selama tujuh bulan dipindahkan ke rumah penjara Hollanda, setelah mendekam selama enam bulan di penjara di Hollanda mereka diajukan ke pengadilan Hollandia. Hakim Van der Vein yang pernah mengadili Dimara di Ambon pada 1946, mengenali kembali Dimara, berkata lantang karena berang, “Johanes Papua!, Kamu dulu sudah ditangkap di Ambon. Sekarang kamu di sini lagi. Tidak Tobat!”. Tanpa Vonis yang jelas Dimara dan kawan-kawannya diangkut ke rumah penjara Digul yang terkenal angker. Rumah penjara Digal pada masa Hindia Belanda adalah rumah penjara khusus bagi pelaku criminal kelas berat. Letaknya di seberang sungai Digul, berdekatan dengan Kamp tahanan politik. Hindia Belanda, dimana Bung Hatta pernah menjadi Kamp tersebut.

Dimara dan kawan-kawannya menghuni rumah penjara “seram” ini selama tujuh tahun. Mereka dikategorikan penjahat kelas berat. Dia sudah menerima sebagai resiko perjuangan. Tanpa disangka, setelah bermimpi ketemu presiden Soekarno dan Merah Putih berkibar, pada 18 April 1961, empat bulan sesudah dikumandangkan Trikora, ia dan kawan-kawannya dibebaskan dari rumah penjara Digul. Melalui perjalanan yang berliku-liku, akhirnya sampai di Soa Siu Ibukota Provinsi Irian diterima oleh Gubernur Sultan Zainal Abidin Sjah, dan Kolonel Busjiri. Panglima Kodam XV/Pattimura. Dalam suasana gembira tersebut, ia mendengar kabar gembira dan kabar sedih. Isterinya yang ditinggalkan sejak Oktober 1954, telah melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Ahy Jacoba Dimara yang pada saat kebebasannya telah berusia tujuh tahun. Berita menyedihkan, bahwa isterinya telah menikah dengan orang lain. Dengan suami barunya telah dikaruniai lima orang anak. Ia sangat sedih, kecewa bercampur marah, kesal. Ia merasa sebagai sebatang kara yang tidak berguna. Hatinya terhibur setelah Panglima Kolonel Busyiri menasehati dan membesarkan hatinya. “Seorang pejuang harus rela berkorban. Berkorban segalanya, kenyataan ini tidak bias diubah. Terimalah dengan senang dan bersabarlah.” Karena di Ambon tidak lagi memiliki tempat tinggal, ia tinggal di rumah Panglima. Dimara tidak tahu apakah Busyiri melaporkan nasibnya kepada atasannya Menteri Keamanan Nasional/KSAD Jenderal Nasution. Lebih kurang tiga bulan tinggal di rumah Panglima, Basyiri memerintahkan Dimara menghadap Jenderal Nasution untuk melaporkan peristiwa yang dia alami dan kondisi yang ia saksikan. Ia berangkat pada akhir Agustus 1961. Tidak bertemu dengan Jenderal Nasution tetapi melaksanakan tugas menyusun laporan sebagaimana petunjuk Busyiri. Di Jakarta situasi berbalik seratus persen, dia ditempatkan di hotel mewah Duta Merlin yang terletak di Jalan Hayam Wuruk (Harmoni). Antara Digul dan Duta Merlin seperti Bumi dan Langit sekalipun sama-sama prodeo. Sama-sama tidak bayar.

Pada Bulan September Dimara dipanggil Presiden Soekarno. Presiden didampingi oleh Pak Was dan Pak Subandrio, Menteri Luar Negeri. Kata Presiden: ”Anak Dimara terima kasih sudah pulang dengan selamat. Kamu Pahlawan Irian Barat! Mulai sekarang Dimara sebagai tokoh Irian Barat. Dimara saya utus untuk menjadi perwakilan Irian Barat di PBB.” Menjelang sidang Majelis Umum PBB Bulan September, Dimara berangkat ke New York. Rombongan Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio. Ada tiga orang Irian lainnya yaitu Mary Dapare, Moses Weror dan Mathias Wondiri. Sekembali dari siding Majelis Umum PBB (Oktober 1961) Dimara terpilih sebagai Ketua Gerakan Rakyat Irian Barat (GRIB) menggantikan Silas Papare. GRIB adalah salah satu organisasi dari Front Nasional OPembebasan Irian Barat (FNPIB) yang dipimpin oleh Jenderal Nasution. Aktivitas GRIB terutama sekali melakukan kontra propaganda Belanda.

Sudah menjadi ketetapan pemerintah dan rakyat Indonesia perjuangan pembebasan Irian Barat harus “Banting Stir” dari perjuangan diplomasi ke konfrontasi bersenjata. Persiapan dilakukan dengan rencana secara cermat dengan langkah-langkahyang tepat. Presiden Soekarno membentuk dewan Pertahanan Nasional 14 Desember 1961. Dimara diangkat sebagai salah seorang anggotanya. Dalam sidang pertama Dewan Pertahanan Nasional (Depertan) diputuskan untuk membentuk Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat (Koti Pemirbar). Presiden Soekarno sebagai Panglima Besar (Pangsar) dan Jenderal A.H. Nasution sebagai Wakil Panglima Besar (Wapangsar). Langkah selanjutnya Presiden akan memberikan pidato resmi, suatu Komando bagi seluruh rakyat Indonesia untuk membebaskan Irian Barat. Atas saran Mr. Muh Yamin, tempat yang dipilih adalah Yogyakarta dan tanggalnya 19 Desember sebagai jawaban terhadap Agresi Militer Belanda II pada 1949. Presiden Soekarno tiba di Yogyakarta sehari sebelum komando diucapkan. Pada kesempatan itu Dewan Mahasiswa Universitas Gajah Mada meminta Presiden memberikan kuliah umum. Kuliah diadakan di Siti Hinggil (Kraton Yohyakarta). Pada kesempatan itu pula Presiden memperkenalkan Dimara, Putera dan Pejuang pembebasan Irian Barat yang diangkat sebagai anggota Dewan Pertahanan Nasional.

Kampanye perjuangan pembebasan Irian Barat diadakan di seluruh Indonesia dalam bentuk rapat-rapat umum. Dimara tidak pernah ketinggalan selalu hadir.


5. Diangkat Sebagai Mayor

Nasib Dimara yang masih berpangkat Bintara (Pembantu Letnan) mendapat perhatian dari Presiden. Mengingat jasa-jasanya yang luar biasa itu Presiden menaikkan pangkatnya secara luar biasa dari Pembantu Letnan menjadi Mayor. Dalam sejarah TNI barangkali hanya Dimara yang pernah memperoleh penghargaan kenaikan pangkat secara luar biasa. Pelatihannya dilakukan oleh Jenderal Gatot Subroto (Wakil Kepala AD) bertempat di MBAD pada tanggal 28 April 1962. Selanjutnya Dimara memang tidak terjun langsung dalam jajaran Komando Trikora, karena sebagai anggota Dewan Pertahanan Nasional kiprah dalam jajaran politik.
Johanes Abraham Dimara meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 20 Oktober 2000. Ia mendapat beberapa tanda penghargaan dari pemerintah, antara lain Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu dan Satyalancana Bhakti. Atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor : 052/TK/Tahun 2010 tanggal 8 November 2010.

Sumber : www.pahlawancenter.com